Pola Pendidikan Masa Kini. Mengenal Pola Asuh Orang Tua/Pendidik
Tidak dapat dipungkiri bahwa siapapun kita adalah produk pendidikan semenjak masa kita dilahirkan sampai sekarang. Seiring berjalannya waktu dari zaman ke zaman sampai zaman sekarang, banyak terjadi perubahan baik pada pola dan sistem pendidikan maupun orientasinya (pandangan yang mendasari pikiran, perhatian, dan kecenderungan). Perubahan tersebut tentunya disesuaikan dengan kebutuhan seiring dengan perkembangan teknologi dan kultur masyarakat. Perubahan yang adapun tidak serta-merta mencampakkan pola dan sistem pendidikan yang sudah eksis. Pola asuh orang tua dalam mendidik anaknya merupakan hal terpenting yang mendasari pendidikannya kedepan. Hal tersebut selalu menjadi pembahasan dan perbincangan hangat disetiap segmen masyarakat terutama oleh para praktisi, psikolog, dan pengamat pendidikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan merupakan aktivitas yang dinamis dan eksis di tengah masyarakat.
Pola asuh anak didik menurut para pakar pendidikan
Menurut pakar dan psikolog pendidikan terkemuka asal Amerika, Diana Baumrind menyebutkan terdapat 3 jenis pola asuh orang tua pada Tahun 60 an, kemudian dikembangkan lagi menjadi 4 jenis pola asuh di Tahun 80 an oleh John Martin dan Eleanor Macobby sebagai berikut :
1. Pola asuh otoriter (authoritarian)
Jenis pola asuh ini merupakan sikap dan tindakan orang tua yang mendominasi sepenuhnya terhadap anak, baik tentang aturan hidup maupun kemana arah masa depan anaknya. Anak cenderung tidak diberi kesempatan untuk mengutarakan keinginan dan pendapatnya. Orang tua menerapkan aturan/disiplin yang ketat dengan sanksi yang membuat anak takut. Dampak psikologis dari jenis pola asuh ini adalah : Meskipun anak tampak patuh akan tetapi biasanya bersikap kasar, agresif, suka menyendiri, dan pemalu. Anak pun akan kesulitan mengontrol diri dan emosinya, juga cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah. Dengan sikap dan perlakuan orang tua yang selalu mengatur dan menekan anaknya, maka anak bisa mengalami depresi dan benci bahkan dendam kepada orang tuanya.
2. Pola asuh abai (uninvolved)
Sikap orang tua yang cenderung acuh tak acuh dan tidak mau tahu dengan keadaan dan keinginan anaknya. Biasanya kurang terjalinnya interaksi dan komunikasi, orang tua lebih fokus pada pekerjaan dan aktivitas pribadnya tanpa meluangkan waktu sedikitpun untuk anak-anaknya.
Dampak psikologis yang akan terjadi pada anak adalah : Anak memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah dan sulit bergaul dengan teman sebayanya. Dengan pola asuh jenis ini, anak cenderung berbuat kekerasan dengan tujuan mencari perhatian, marah, sering merasa takut, dan stres karena merasa kurang bahkan sama sekali tidak ada dukungan keluarga.
3. Pola asuh permisif
Jenis pola asuh ini orang tua dalam pendekatan kepada anaknya yaitu menjadikannya sebagai teman. Biasanya orang tua lebih cenderung membiarkan anaknya melanggar aturan dan seringkali melanggar sendiri aturan yang sudah disepakati bersama. Sehingga dianggap tidak tegas dan konsisten, juga terlalu sabar dan toleran. Dampak psikologis yang akan terjadi pada anak adalah : Kurangnya kemandirian, cenderung tidak menghargai aturan, tidak sabaran, dan agresif.
4. Pola asuh suportif (authoritative)
Pola asuh jenis ini, peran orang tua cukup suportif dan memberikan respons terhadap pilihan anak. Disamping anak diperlakukan sebagai teman, tetapi ada batasan tertentu dan tegas dalam menjalankan aturan yang telah disepakati. Dampak psikologis yang akan terjadi pada anak adalah : Anak cenderung memiliki kepribadian baik seperti mandiri, ramah, dapat mengendalikan diri, mempunyai tujuan hidup, memiliki kepercayaan diri, dan mudah bergaul.
4 jenis pola asuh ini adalah gambaran yang mewakili kondisi pendidikan anak baik di rumah maupun di sekolah. Adapun pengaruh dari luar seperti kemajuan teknologi informasi, pergaulan di lingkungan sekolah dan masyarakat, itupun menjadi bagian yang membentuk kepribadian anak. Disini peran orangtua dan guru sangat penting dalam proses pembentukan kepribadian dan karakter anak didik. Dengan mengenal setidaknya 4 pola asuh diatas, diharapkan menjadi bahan refleksi, introspeksi, dan motivasi bagi orangtua dan para pendidik agar lebih meningkatkan dan memaksimalkan perhatiannya terhadap pendidikan putra-putri tercinta.
Penulis: Agus Setiana, S. Ag., MSI.
Posting Komentar